Meneropong Implementasi Konsep E-Government Di Indonesia Meneropong
Implementasi Konsep E-Government Di Indonesia oleh Prof.
Richardus Eko Indrajit Menggembirakan. Kurang lebih demikianlah kesan yang mengemuka di benak
mereka yang rajin membaca dan menyimak beragam artikel majalah terkemuka Warta
Ekonomi terkait dengan seluk beluk perencanaan, pembangunan, penerapan, dan
pengembangan konsep e-Government di Indonesia belakangan ini. Pendapat tersebut
tidaklah berlebihan, terutama jika dilihat dari kacamata sepuluh aspek atau
unsur penting yang harus diperhatikan dalam beragam inisiatif implementasi
e-Government di negara berkembang seperti yang dirumuskan oleh Pacific Council
of International Policy. Pertama, mengenai latar belakang atau alasan diimplementasikannya
e-Government. Jika beberapa tahun yang lalu masih terkesan bahwa pemerintah
beserta stakeholdernya tergerak untuk mengimplementasikan konsep e-Government
karena latar belakang trend atau ikut-ikutan belaka (terbukti dengan banyaknya
dari mereka yang belum paham benar mengenai “jiwa” dari konsep tersebut), maka
belakangan ini terlihat adanya kesadaran penuh dari sejumlah pimpinan birokrasi
untuk secara sungguh-sungguh menerapkan konsep tersebut karena didasarkan pada
alasan yang solid. Lihatlah bagaimana tokoh-tokoh pemerintah di pusat maupun
daerah dalam berbagai kesempatan berupaya untuk meyakinkan sejumlah khalayak
bagaimana transformasi menuju pada sebuah paradigma pemerintahan baru yang
bersih, kredibel, berorientasi pada pelayanan, dan melibatkan partisipasi
publik sebesar-besarnya dapat dilakukan melalui penerapan e-Government secara
efektif. Kedua, sehubungan dengan adanya visi dan prioritas yang jelas mengenai
hal-hal apa saja yang perlu dituju dan diutamakan dalam mengembangkan
e-Government di berbagai pelosok tanah air. Strategi makro Indonesia yang
menuju pada konsep otonomi daerah telah membantu pemerintah setempat dalam
menemukan aplikasi e-Government yang kontekstual dengan kebutuhan masyarakat di
daerah tersebut. Hal ini terbukti dari semakin tingginya “alignment” antara visi pemerintah daerah dengan perencanaan
strategis pengembangan e-Government di daerah tersebut. Ketiga, terkait dengan pemilihan tipe aplikasi e-Government yang sesuai
dengan kondisi dan kekuatan pemerintah setempat. Hal yang menarik untuk
dicermati dari segi ini adalah timbulnya semangat gotong-royong dari sejumlah
kalangan – pemerintah, swasta, pendidikan, dan masyarakat – untuk bersama-sama
membangun aplikasi e-Government yang sesuai dan tepat guna dengan kebutuhan
daerah tersebut. Keputusan untuk melakukan kerjasama ini timbul karena adanya
kesadaran mengenai terbatasnya berbagai sumber daya yang dimiliki oleh daerah
atau kota/kabupaten setempat. Disesuaikannya strategi pengembangan e-Government
dengan kemampuan sumber daya daerah setempat mencerminkan adanya pertimbangan
dan perhitungan cost-benefit yang matang dari pemerintah daerah tersebut. Keempat, menyangkut adanya keinginan politik atau “political will” dari
para tokoh dan pimpinan pemerintahan beserta jajaran birokrasinya dalam
mempromosikan dan mengimplementasikan beragam inisiatif pengembangan
e-Government. Perubahan yang nyata terlihat adalah mulai
terinstitutionalisasikannya prinsip-prinsip e-Government dalam tatanan
pemerintahan yang ada. Buktinya adalah bahwa jika dahulu sukses tidaknya
implementasi e-Government akan sangat ditentukan oleh pimpinan atau
“leadership” dari Gubernur atau Bupati yang bersangkutan, maka pada dewasa ini
semangat untuk mengimplementasikan e-Government telah menyebar ke segenap
tataran manajemen pemerintahan, sehingga tidak perlu dikhawatirkan lagi matinya
inisiatif pengembangan e-Government karena adanya pergantian pucuk pimpinan. Kelima, dalam hal pemilihan portofolio proyek e-Government yang tepat
sasaran. Menarik untuk dicermati maraknya sejumlah fenomena yang memperlihatkan
keberanian sejumlah pemerintah dalam menggunakan pendekatan portofolio
pengembangan aplikasi e-Government dengan ragam spektrum kompleksitas yang
berbeda. Jika pada beberapa tahun yang lalu kebanyakan implementasi
e-Government masih berada dalam tataran level “informasi”, maka saat ini telah
banyak dikembangkan aplikasi yang telah memasuki ranah “interaksi” dan
“transaksi”. Bahkan beberapa kasus sukses telah berhasil menerapkan konsep“integrasi”
dalam bentuk pengembangan aplikasi berbasis lintas sektoral di pemerintahan. Keenam, berhubungan dengan kualitas teknik perencanaan dan tata kelola
proyek-proyek e-Government. Kematangan para penanggung jawab berbagai proyek
e-Government terlihat meningkat seiring dengan keseriusan mereka dalam menyusun
tahapan pengembangan e-Government melalui perencanaan secara matang yang
tertuang dalam berbagai kerangka konseptual semacam Rencana Induk (Master Plan)
Pengembangan e-Government dan Cetak Biru (Blue Print) Arsitektur e-Government
yang merupakan turunan dari Rencana Strategis (Renstra) dari pemerintah
terkait. Demikian pula dalam hal penerapan standar baku pelaksanaan program
pengembangan yang mengacu pada kaidah-kaidah baku standar manajemen proyek yang
berlaku. Ketujuh, menyangkut masalah strategi manajemen perubahan di kalangan
pemerintahan. Sudah merupakan rahasia umum bahwa tanpa adanya perubahan
paradigma, pola pikir, dan perilaku, mustahil konsep e-Government dapat
diterapkan secara efektif. Oleh karena itulah maka setiap inisiatif penerapan
aplikasi e-Government harus diikuti dengan strategi manajemen perubahan yang
cermat. Dalam berbagai kasus yang ada, terlihat bagaimana kreatifnya para
pelaku dan stakeholder di pemerintahan dalam berbagai usahanya untuk mengajak
beragam individu dengan kepentingannya yang berbeda untuk secara sadar, mau,
dan semangat mendukung dan mengimplementasikan program e-Government yang
dicanangkan. Termasuk di dalamnya variasi strategi para tokoh-tokoh di kalangan
pemerintahan dalam menghadapi tantangan dan rintangan dari mereka yang tidak
mau berubah. Kedelapan, terkait dengan cara mengukur kemajuan dari diimplementasikannya
konsep e-Government. Untuk menjamin terciptanya proses institutionalisasi
prinsip-prinsip e-Government di dalam pemerintahan dan menjaga sustainabilitas
keberlangsungan tatanan ini di masa mendatang, perlu didefinisikan dan
ditentukan indikator-indikator pemantau kinerja implementasi konsep ini.
Walaupun belum banyak terlihat, namun dapat ditemukan beberapa kasus
e-Government dimana pemerintahnya telah berani menerapkan sejumlah ukuran -
seperti kepuasan masyarakat, perbaikan kinerja proses internal, kualitas
pengambilan keputusan, posisi neraca keuangan, dan lain sebagainya – sebagai
tolak ukur berhasil tidaknya konsep e-Government mendatangkan manfaat yang
signifikan dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya. Kesembilan, berhubungan dengan jalinan kemitraan antara pemerintah dengan
sektor swasta dan institusi lainnya. Di sinilah terlihat secara nyata bahwa
tingkat akselerasi dan adaptasi penerapan konsep e-Government yang cukup tinggi
mustahil mencapai tahap seperti yang sekarang ini tanpa terjalinnya kemitraan
strategis antara pemerintah dengan pihak-pihak lain, terutama dari kalangan
industri swasta. Peranan dan kehadiran pihak-pihak swasta seperti penyedia
infrastruktur telekomunikasi, penyambung koneksi ke internet, pengembangan
perangkat lunak aplikasi, pengadaan beragam perangkat keras dan jaringan,
pemandu implementasi sistem, dan penyelenggara pelatihan sumber daya manusia,
merupakan kunci sukses diterapkannya aplikasi e-Government secara efektif. Kesepuluh, perihal meningkatnya peranan dan partisipasi masyarakat dalam
proses penyelenggaraan pemerintahan. Merupakan fenomena yang menarik, bahwa
penerapan e-Government di beberapa daerah berhasil menarik minat masyarakat
untuk berpartisipasi secara langsung dan aktif dalam berbagai proses dan
aktivitas penyelenggaraan pemerintah. Lihatlah bagaimana maraknya pemanfaatan
fasilitas komunikasi seperti forum diskusi, jajak pendapat, ”chatting”, surat
elektronik, dan ”mailing list” yang melahirkan interaksi positif antara
pemerintah dengan masyarakatnya dalam beragam proses seperti: penyusunan
peraturan daerah, penjajakan usulan kebijakan, perbaikan mutu layanan, dan lain
sebagainya.
07 May 2009, Category :
IT & Pemerintahan (e-Gov)
Comments :
0
Read comments
Leave comment

